Posted on

Sejarah atau History Brand Gucci

Sejarah atau History Brand Gucci

Brand Gucci didirikan oleh Guccio Gucci di kota Florence tahun 1921. Gucci masa kini lebih dikenal sebagai sebuah ikon fashion Italia.Di samping itu, Gucci juga termasyhur sebagai label desainer barang-barang berbahan kulit asli yang memiliki nuansa glamor.Tidak ada yang meragukan bahwa Gucci adalah salah satu merek fashion global yang paling mudah dikenali dan paling bergengsi sepanjang sejarah modern.

Seperti usaha keluarga lainnya, Gucci pada awalnya didirikan sebagai sebuah toko pembuatan pelana di tahun 1906 karena pada saat itu kuda masih menjadi sarana transportasi yang paling umum. Guccio sangat berbakat dalam pembuatan barang – barang berbahan kulit.Usaha rintisannya yaitu menjual tas kulit buatannya pada para joki di tahun 1920-an. Belum puas dengan ini, Guccio memperluas usahanya dengan membuat koper – koper berdesain mewah. Di tahun 1938, Guccio Gucci membuka gerai pertamanya di Via Condotti, Roma, Italia.

Pada tahun 1947, Gucci memperkenalkan Bambu pegangan tas tangan, yang masih menjadi andalan perusahaan. Ikon Gucci begitu mudah dikenali, tas kulit dengan pegangan bambu diciptakannya.Guccio Gucci menciptakan banyak karyanya yang kini menjadi klasik, di antaranya adalah kopor, dasi, sepatu, dan tas yang terkenal dengan memamerkan pegangan bambu. Selama tahun 1950-an, Gucci juga mengembangkan merek dagang bergaris anyaman, yang berasal dari ketebalan pelana, dan sepatu sandal suede dengan horsebit logam.

Guccio Gucci memiliki istri bernama Aida Calvelli dan keduanya dikarunia enam orang anak.Namun, di kemudian hari hanya empat anak laki-lakinya yang memiliki peranan besar dalam mengelola bisnis keluarga tersebut. Masing – masing bernama Vasco, Aldo, Ugo, dan Rodolfo Gucci. Keluarga Gucci berduka dengan kematian kepala keluarga Guccio Gucci di tahun 1953. Meninggalnya Guccio Gucci menandakan berakhirnya generasi pertama Gucci. Hingga saat itu, Gucci sebagai bisnis keluarga nampak mengalami masa keemasan setelah berhasil menangani sederet tantangan eksternal. Namun, nampaknya itu merupakan masa – masa tenang sebelum datangnya badai.

Perusahaan keluarga tersebut memiliki sejumlah titik rawan dan bila lalai untuk di antisipasi dengan baik akan berpotensi menimbulkan kekacauan sistemik, salah satunya adalah persaingan antar anggota keluarga yang bertanggung jawab mengelola perusahaan tersebut. Sepeninggalan sang Ayah, Aldo Gucci menjadi nahkoda bagi perusahaan keluarga.Sejak saat itu Gucci menjadi sebuah ajang perseteruan keluarga yang pelik dan sengit. Aldo Gucci memang berhasil mengantar Gucci menuju kancah internasional dengan membuka butik pertama mereka di The Big Apple alias New York. Akan tetapi semua itu ia lakukan dengan susah payah di antara begitu banyaknya konflik yang muncul di antara sesama pemilik nama keluarga Gucci. Sengketa mengenai warisan, kepemilikan saham, dan pengelolaan perusahaan sehari – hari telah menjadi begitu jamak sehingga perusahaan menjadi goyah. Hal itu diperparah dengan kecenderungan pihak – pihak yang berseteru untuk membangun kerjasamanya sendiri. Alhasil, Gucci telah menjadi begitu terfragmentasi. Gucci menargetkan pembukaan cabang-cabang baru di wilayah Asia Timur, tepatnya di Hongkong dan Tokyo. Pada saat itu, perusahaan juga mengembangkan logo yang terkenal GG  (inisial sang pendiri yaitu Guccio Gucci). Hingga saat itu, posisi Gucci masih dalam batas aman.

Semua mulai berubah saat Gucci menapaki akhir dekade 1970-an. Bermula dari serangkaian keputusan bisnis yang kurang tepat dan di perburuk oleh perseteruan internal keluarga Gucci yang terus menerus mendera, Gucci terseret menuju jurang kehancuran ke ambang kebangkrutan. Pada tahun 1979, Aldo mengembangkan Gucci Accessories Collection, atau GAC, dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan untuk sektor Parfum Gucci, yang anak-anaknya kendalikan. GAC terdiri dari aksesoris kecil, seperti tas kosmetik, korek api, dan pena, yang harga poin jauh lebih rendah dari barang lainnya dalam katalog aksesoris perusahaan. Tindakan ini awalnya semata ditujukan untuk membatasi ruang gerak Rodolfo dalam mengendalikan perusahaan. Meskipun Gucci Aksesoris Koleksi diterima baik oleh konsumennya, namun siapa sangka malah menyebabkan kejatuhan perusahaan. Pemalsuan produk Gucci di pasaran juga semakin memperparah citra Gucci di mata konsumen setianya.

Tidak peduli dengan performa buruk perusahaan, dua Gucci bersaudara – Aldo dan Rodolfo- tetap menunjukkan sikap permusuhan satu sama lain, terutama disebabkan oleh masalah divisi Parfum mereka yang kontraproduktif. Seakan belum cukup dengan konflik yang ada, sementara itu, pada tahun 1983 anak laki-laki Aldo bernama Paolo Gucci memperburuk keadaan dengan mengajukan gagasan untuk meluncurkan versi yang lebih terjangkau dari Gucci yang dinamainya “Gucci Plus”. Konon Paolo bertengkar hebat dalam rapat dewan pimpinan saat mengajukan idenya tersebut hingga ia harus jatuh pingsan akibat adu fisik. Sebagai aksi balas dendam terhadap sang ayah, Paolo tanpa takut melaporkan sang ayah atas dugaan atas tindak penghindaran pajak. Aldo dinyatakan bersalah dan dipenjarakan pada kesaksian anaknya sendiri. Dan konflik ayah-anak ini segera menjadi headline di media massa.

Rodolfo meninggal pada tahun 1983 menyebabkan pergeseran besar dalam perusahaan ketika dia meninggalkan saham nya 50% di Gucci kepada anaknya, Maurizio Gucci. Maurizio memutuskan untuk bekerjasama dengan Paolo Gucci demi mendapatkan kendali penuh atas dewan direksi. Keputusan itu tampaknya tidak diakomodasi dengan baik oleh anggota keluarga Gucci lainnya. Semua anggota keluarga Gucci yang masih bertahan dalam perusahaan memutuskan untuk keluar dan hanya Uberto (cucu Aldo) adalah satu-satunya generasi muda Gucci terlibat dalam bisnis keluarga yang masih bersedia bertahan di sana.

Pada tahun 1989, Maurizio berhasil membujuk Dawn Mello, sebagai Wakil Pimpinan Eksekutif dan Direktur Kreatif Internasional. Sebuah tim kreatif juga dibangun dan diperkuat oleh beberapa nama yaitu Geoffroy Beene, Calvin Klein, dan Tom Ford. Namun setelah empat tahun sebagian besar manajer senior perusahaan setuju bahwa ia tidak mampu menjalankan perusahaannya dengan baik. Akhirnya setelah melakukan banyak cara, Maurizio harus menerima keputusan pahit dari para manager senior Gucci bahwa ia dinyatakan tidak mampu mengelola Gucci. Maurizio terpaksa menjual sahamnya di perusahaan untuk Investcorp pada bulan Agustus 1993.

Setelah itu, Domenico De Sole dan Tom Ford menjadi figur utama dalam perusahaan yang sedang sekarat tersebut dan misi mereka adalah memulihkan citra Gucci menjadi merek eksklusif kembali. menyadari bahwa jika Gucci adalah untuk menjadi perusahaan yang menguntungkan, itu akan memerlukan gambar baru, dan dia setuju untuk mengejar visi Ford. Kepemilikan saham juga akhirnya diserahkan sejumlah 40% kepada PPR (Pinault-Printemps-Redoute) yang berkedudukan di Prancis dan sejumlah 11% pada Credit Lyonnais serta Bernard Arnault sejumlah 20%. Kini Gucci dipimpin oleh CEO-nya yang bernama Patrizio di Marco.

untuk mencari cerita lainnya click aja http://newandsecondstore.com/category/history/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *