Posted on

Sejarah atau History Supreme

Sejarah atau History Supreme

awalnya Supreme terbentuk sebagai toko perlengkapan skateboard dan juga pakaian streetwear. Berdiri di New York, Amerika Serikat pada April 1994. Brand ini terinspirasi dari gaya pakaian anak muda urban Amerika yang sangat identik dengan skateboard, punk rock, hip-hop. Orang yang pertama yang mendirikan Supreme ialah James Jebbia. Ia merupakan seorang cowok yang lahir di Amerika Serikat namun tinggal di Inggris sampai dia berusia 19 tahun. Toko pertama Supreme sendiri didirkan di Lafayette Street di kota Manhattan pada 1994. Toko itu sengaja di desain sedemikian rupa biar para skaters tertarik masuk ke dalam sambil melihat – lihat produk Supreme. Saat itu, James membutuhkan uang sekitar 12 ribu dollar AS untuk membuka toko pertama Supreme. Karyawan pertamanya ialah Gio Estevez.

James pernah belajar tentang industri retail saat bekerja di sebuah toko bernama Parachute di SoHo, dengan Eddie Cruz, yang saat ini jadi pendiri Undefeated. Sebelum mendirikan Supreme, ternyata James juga pernah mendirikan Union, salah satu dari produk Streetwear di dunia. Enggak cuma itu, James juga pernah membantu pembukaan toko Stussy di New York pada 1991. Nah, jadi udah terbukti kan kalo James memang punya pengalaman yang banyak dalam mendirikan sebuah brand yang bisa memikat hati para anak-anak muda.

Mungkin sebagian dari kamu beranggapan apa sih Supreme itu. Tapi, bagi para kolektor fashion Supreme ini memiliki daya tarik yang sangat tinggi loh. Alhasil, setiap Supreme merilis produk – produk terbaru, antrian panjang pun terjadi. Bahkan ada yang menunggu 2 hari sebelum toko dibuka. Hal ini juga menyebabkan, lalu lintas di seputaran toko di New York terganggu akibat antrian yang panjang itu. Supreme dikenal sebagai brand yang selalu berhasil menjual habis produknya. Produk yang dirilis Supreme ini juga cukup aneh, mulai dari helm sepeda motor, batu bata, palu, t-shirt, jaket, sepatu, celana dalam, hingga linggis. Walaupun terdengar aneh – aneh produk yang dikeluarkan selalu terjual habis dalam waktu yang kurang dari satu bulan.


Terciptanya Brand Image Ekslusif dengan Strategi Kelangkaan

Hampir tiap fans Supreme ditanya kenapa mereka senang dengan brand satu ini, pasti jawaban yang diberikan adalah faktor “Hype”. Karena produk ini dianggap keren dan populer. Hal ini juga terbukti di atas Red Carpet, brand ini menjadi “aset” yang sangat berharga dan bernilai untuk dikenakan oleh para artis pop dan rapper lainnya.

Selain memasarkan produknya sendiri Supreme juga sering berkolaborasi dengan brand ternama seperti Nike, Clarks, Louis Vuitton, dan Vans untuk sepatu. Untuk jaket sendiri Supreme juga berkolaborasi dengann Commes des Garcons dan A.P.C untuk celana jeans. Popularitas Supreme ini juga didukung oleh publikasi media fashion terkemuka, salah satunya Majalah GQ Style yang telah menobatkan Supreme sebagai “Brand Streetwear yang paling keren di dunia ini”. Tetapi, di balik kuatnya brand Supreme ini, strategi pemasannya juga berpengaruh untuk membentuk ekslusif brand tersebut. Strategi utama pemasaran Supreme adalah membuat produknya ‘langka’. “Jika kita bisa menjualnya 600 buah, kita akan memproduksinya 400 buah, begitulah cara kami,” kata James Jebbia, pendiri brand Supreme.

Kehebatan Supreme ini pandai memposisikan dirinya untuk sulit didapatkan produknya. Walaupun sebenarnya permintaan pasar yang sangat besar. Supreme juga selalu konsisten dalam memproduksi produknya dalam jumlah yang sangat terbatas. Satu buah desain dari suatu produk hanya akan diproduksi dan dijual dalam satu kali rilis saja. Nah, pada waktu lainnya, tidak akan dijual kembali. Supreme juga menerapkan aturan khusus dalam menjual barangnya, yaitu seseorang tidak boleh membeli lebih dari satu produk yang sama sekaligus. Jadi kalau kamu ingin membeli dua potong t-shirt Supreme bergambar sama, kamu harus dua kali berhadapan dengan kasir. Hal ini secara tidak langsung berguna untuk menghindari praktik monopoli dari para reseller. Karena produk Supreme sulit diperoleh, secara tak langsung kesan eksklusif juga muncul pada brand tersebut.  Hal inilah yang membuat logo klasik yang berbentuk kotak berwarna merah bertuliskan Supreme seolah menjadi penanda bagi siapapun yang menggunakannya memiliki aset yang mempunyai nilai fantastis.

James Jebbia juga menjelaskan bahwa para pecinta Supreme menyenangi produknya karena kualitasnya yang baik. Ia juga mengaku terheran – heran saat orang – orang yang sulit menerima kenyataan bagamaina penggemar Supreme berusaha memperoleh produk yang diinginkannya.

“Tidak ada trik khusus, semuanya adalah soal produk yang baik”

~James Jebbia

mereka juga menjual batu bata, palu dan linggis? Ya, mungkin memang terdengar aneh. Tapi nyatanya sepotong batu bata buatan Supreme bahkan laris terjual meski dihargai sebesar USD 30 atau sekitar Rp 400 ribu. Lebih gilanya lagi, kita juga bisa menemukan orang – orang yang menjual kembali produk Supreme di eBay dengan harga yang melonjak tinggi. Sepotong batu bata Supreme diketahui pernah di iklankan di eBay dengan harga USD 1.000 atau sekitar Rp 13 juta.

Padahal kalau diteliti lagi, tidak ada yang istimewa dari batu bata itu. Komposisi dan bentuknya tidak jauh berbeda dengan sepotong batu bata di toko bangunan yang dijual seharga Rp 800. Bentuknya balok, warnanya kemerahan, bahan pembuatnya tanah liat. Sama saja kan dengan batu bata di toko bangunan? Namun keberadaan logo ”Supreme” yang tercetak di batu bata itulah yang membuat orang rela merogoh kocek dalam – dalam untuk memilikinya meski tidak tahu batu bata itu akan diapakan nantinya.

untuk mencari cerita lainnya click aja http://newandsecondstore.com/category/history/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *